Alam menangis, Ia tak kuat lagi menahan kepiluan
Ia tak kuat lagi berada dalam kepura-puraan.
Hingga akhirnya sempat ku lihat ia menitikan air kala mentari masih bersinar.
Dan ketika langit bertemu malam, ia menyampaikan apa yang ia rasakan.
Dia murka. Murka karena manusia tak peduli dengan alamnya.
Siapa sangka, mungkin juga alam murka karena manusia brusaha mengusir awan hitam yang pada dasarnya akan menghapus kegersangan.
Pi'i,13/5/14 "00.35", file dalam folder "masih ada koma"
Apapun yang pernah ku lihat, rasakan, dan dapatkan adalah Prasasti
Tampilkan postingan dengan label Angan-angan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angan-angan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 November 2014
Minggu, 21 September 2014
Kidung Bali Dwipa
Kidung Bali Dwipa
Safitri N.W.
Ini dunia
barat?
“Bukan! ini
dunia timur.”
Lihat
penghuninya, kaki mereka berpijak pada adat
Gamelan
dimainkan sebagai iringan tarian, sebagai iringan kejayaan, iringan pemujaan
Tubuh
mereka melenggak-lenggok tegas menikmati alunan
Menari
menceritakan kisah lama
Untukmu
Teruna-teruni Bali Dwipa.
Seusai
senja...
Sayup-sayup terdengar bisikan
Itu dia!
mereka mulai bersuara
Sandiwara
nyata purnama menggantikan cahaya
Di bawah
pobon kamboja, terdengar kidung usai senja
Menyaksikan
purnama menyeri diantara selendang yang gagah tangkas sikapnya
Siapa
sangka bisikan kidung Bali Dwipa adalah mantera
Selendang
terikat pada tubuh Teruna-Teruni Bali Dwipa
Dalam
upacara di Pura-pura mereka mengucap mantera
Kidung
diperdengarkan
Berdampingan
dengan dengan canang dan dupa
Hingga banten untuk para dewa, untuk semesta
Mengalirkan perasaan umat sesuai
suasana
Menghanyutkan perasaan pada
muaranya, bahagia hingga nelangsa.
Jumat, 02 Mei 2014
Bagaimana Bisa disalahkan?
Puisi ini saya tulis setelah mendengarkan penyair sungguhan, Gus Mus membaca puisinya yang berjudul Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana.
Bagaimana Bisa disalahkan?. . .
(terinspirasi
dari puisi Gus Mus)
Kau ini siapa?
Seenaknya saja mengaku cinta
kepadaku
Aku lahir di sini kau sambut
dengan suka cita
Perayaan-perayaan, ritual,
pengajian, syukuran. Padahal aku tak meminta
Kau beri aku nama sebagai
identitasmu
Tapi kamu merusak identitasmu atas
nama aku
Kau itu siapa?
Kau nobatkan aku sebagai anutanmu
Menyuruh mereka tunduk, tapi
tanpa mereka tahu kau mencibirku
Enak saja kau mengatasnamakanku
dalam jahannammu
Kau juga siapa?....
Kau inginkan aku tumbuh
Aku tumbuh kau memangkasnya
Kau menyuruh mereka merawatku
Mereka merawatku, kau tindas aku semaumu
Kau menyuruh mereka melindungiku
Aku dilindungi kau memburuku
Lalu Kau itu siapa?
Kau menyuruh mereka berbagi,
mereka berbagi kau menelannya
hihihihihihi... bagaimana bisa?
Bagaimana bisa kau bersila, bagaimana
bisa kau memuja, bagaimana kau mengacungkan dupa, padahal mereka kelelahan mengais sisa
Bagaimana bisa kau menghamburkan,
padahal mereka mengumpulkan
Kau ini siapa?
Mereka tidak mengenalmu tapi kau
memaksa untuk dikenal
Kau pernah singgah di gubuk
mereka tapi kau lupakan begitu saja
Dan pada saat kau bertutur kepada mereka, mereka menyambut
Tapi saat mereka bertutur padamu, kau
menghujatnya
kau ini siapa? . . .
Kau bukan pemilik dunia, juga bukan segalanya
kau mengaku taqwa tapi suka lupa
atau memang sengaja dilupakan?....
Safitri
N. W.
Singaraja, 02/05/14
Kamis, 01 Mei 2014
Sentuhan-Nya
Aku menghadap ke mana?
Matahari di sebelah mana?
Bayanganku juga tak ada.
Tunggu! Suara apa itu?
Aku mendengarnya, seperti desis angin.
Ahhh... bukan hanya itu!
Lama kelamaan suara itu mendekat,
semakin dekat, dan semakin keras.
Rupanya Tuhan.
Aku menengadah, bersiap menerima pemberian dari-Nya.
Merasakan tiap sentuhan darinya.
Dingin, sejuk, tenang, gelap
hingga tak ada yang melihat jika aku masih berdiri di sana.
Singaraja, 01/05/14
Matahari di sebelah mana?
Bayanganku juga tak ada.
Tunggu! Suara apa itu?
Aku mendengarnya, seperti desis angin.
Ahhh... bukan hanya itu!
Lama kelamaan suara itu mendekat,
semakin dekat, dan semakin keras.
Rupanya Tuhan.
Aku menengadah, bersiap menerima pemberian dari-Nya.
Merasakan tiap sentuhan darinya.
Dingin, sejuk, tenang, gelap
hingga tak ada yang melihat jika aku masih berdiri di sana.
Singaraja, 01/05/14
Minggu, 23 Maret 2014
sajak penunggu
aku tak mau jika hanya menatapmu semu
mataku belum siap bertemu dg matamu
aku ragu aku malu aku kaku
jika mata kita bertemu
dan saat itu aku memilih berdiri di belakangmu
membiarkan mataku bertemu dengan tubuhmu
daripada aku ragu-ragu dihadapanmu
dan terbelenggu oleh sekat abu
jika waktu lelah menungggu
aku akan menatapmu, menyentuh bahu
kau termangu mendengar pengakuanku
lalu ku berkata "sudah cukup aku menunggu"
mataku belum siap bertemu dg matamu
aku ragu aku malu aku kaku
jika mata kita bertemu
dan saat itu aku memilih berdiri di belakangmu
membiarkan mataku bertemu dengan tubuhmu
daripada aku ragu-ragu dihadapanmu
dan terbelenggu oleh sekat abu
jika waktu lelah menungggu
aku akan menatapmu, menyentuh bahu
kau termangu mendengar pengakuanku
lalu ku berkata "sudah cukup aku menunggu"
Senin, 03 Maret 2014
kenangan tentang Damar (semalam)
Manusia,
hewan, dan tumbuhan hidup adalah untuk menanti kematian. Bagainamapun dan
dengan cara apapun kita menghindar, kematian akan menghampiri kita, mengajak
kita melupakan kenangan yang pernah tercipta. “mereka” tidak akan pernah lagi
mengingat masa-masanya di bumi, walau sebenarnya sisa tubuh mereka tertanam di
bumi. Namun, kita yang masih hidup akan mengenang mereka yang mendahului
meninggalkan kita.
Kenangan ini
adalah salah satu kenangan tentang damar yang hanya semalam menyala memberi
penerangan kepada kami, sahabat-sahabatnya, dan sekarang damar itu telah
berhenti memancarkan api.
November
2013, saat kami mempersiapkan pameran BALI ACT, kami para sahabat memiliki ide
untuk menggunakan salah satu gedung tua tak terpakai di Singaraja. Gedung itu
adalah gedung bekas toko yang terbakar beberapa waktu silam. Gedung itu
menyisakan tiang-tiang penyangga tanpa atap. Sesuai dengan tema pameran yaitu
My Opinion, kami berinisiatif membungkus bagunan tua dengan koran-koran bekas
dan memadukannya dengan berbagai instalasi pameran. Di sela-sela padatnya
kuliah, setiap sore kami bergegas ke TKP (tempat kejadian pameran). Lembar demi
lembar koran yang kami kumpulkan mulai terpasang melapisi bagunan.
November, ya
bulan November adalah bulan di mana hujan mulai mengguyur tanah kering
Indonesia. Malang nasib kami. Dini hari, saat kami terlelap hujan lebat mulai
mengguyur Singaraja. Sial sekali, ternyata alam takberpihak kepada kami. Siang hari
sepulang kuliah, beberapa dari kami bergegas menuju TKP. Mata kita terbelalak
melihat bangunan tua tanpa atap yang kami ubah dengan berbagai rentetan kata menjadi
rusak, lenyap bersama tetesan air yang mengenai bangunan.
Nasib malang
yang menimpa kami membuat kami harus memulai dari awal, apalagi pameran yang
kita laksanakan tinggal tiga hari lagi. Sungguh waktu yang sangat singkt untuk
memulai semuanya. Terpaksa, selama beberapa hari kami harus lembur,
menginap di TKP untuk menyelesaikan semuanya.
Malam itu,
sekitar sepuluh orang bergantian merekatkan kembali koran-koran ke
dinding-dinding bangunan. Jika mata sudah tidak kuat menyangga kami bergantian
untuk istirahat. Malam itu, suara sahabat kami, Kak Darwis yang beberapa hari
yang lalu telah meninggalkan kami
terngiang di telinga “kalau kalian ngantuk, tidur aja dulu. Biar aku yang
menjaga dan nempelin korannya”.
Ternyata bermalam
di bangunan tua tidak kalah dengan kemah pramuka. Kami terlelap di atas lantai
beralaskan kabar berita dunia, seribu bencana, dan opini masyarakat. Dalam lelap
tanpa ketenangan, aku mendengar suara gemrisik suara yang sedikit mengganggu. “Oh...
aku kira apa” ternyata Kak Darwis dan satu lagi teman kami, ternyata mereka masih berjaga,
entah apa yang ia lakukan. Aku terbangun, mengucek mata meihat sekeliling. Lambu-lampu
jalanan masih menyala, gambar-gambar pada dinding bagunan tampak remang oleh
sinar damar, ku lihat satu per satu tubuh sahabat-sabhabatku yang tergeletak
menikmati kehangatan tanah. Aku memutuskan bergabung bersama mereka, bercerita
tentang pelayaran hidup yang kami jalani, terutama masalah pameran.
Setelah itu,
kami bertiga memutuskan untuk merekatkan kembali kata-kata yang belum terpasang
(koran) pada dinding. Belum lama kami bekerja, mata mulai redup, capek, dan
kami menyebar untuk sekadar meluruskan badan, tidur. Mulailah kawan-kawan lain
terbangun, mulai menggantikan kami untuk merekatkan koran yang belum terpasang,
hingga subuh, sebelum kami memutuskan kembali ke tempat kami.
Setitik kenangan
yang Ia ciptakan selama hadir di tengah-tengah segelintir manusia aneh ini akan
kami catat dalam sebuah Prasasti.
Langganan:
Postingan (Atom)
